MAKASSAR, CAHAYASULSEL.COM – Nama Abdul Haris Agam, atau yang lebih dikenal sebagai Agam Rinjani, kini menggema bukan hanya di tanah air, tapi juga di benak ribuan warga Brasil. Di balik keteguhan sosoknya, ternyata Agam adalah putra asli Makassar, Sulawesi Selatan, kelahiran 22 Desember 1988, yang menghabiskan masa kecil di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang, Makassar.
Agam bukan hanya petualang, tapi juga intelektual. Ia adalah mantan mahasiswa Antropologi di Universitas Hasanuddin (Unhas), sekaligus bagian dari Korps Pecinta Alam (Korpala) Unhas—komunitas yang telah membentuk karakter tangguh dan cinta alam dalam dirinya sejak bangku kuliah.
Pada akhir 2015, setelah menyelesaikan studi, Agam memutuskan merantau ke Lombok. Ia kemudian menetap di kaki Gunung Rinjani, Sembalun, dan mendedikasikan dirinya sebagai pemandu gunung, porter, serta relawan tim evakuasi.
Aksi Penyelamatan yang Menyentuh Dunia
Namanya mencuat setelah aksi heroik mengevakuasi jenazah Juliana Marins, pendaki asal Brasil yang terjatuh ke jurang sedalam 600 meter di kawasan Rinjani. Dalam sebuah video yang beredar luas, terlihat Agam menuruni tebing curam dan membantu mengangkat tubuh Juliana dari dasar jurang dengan penuh kehati-hatian.
Menurut Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, proses evakuasi berhasil dilakukan oleh tim SAR gabungan bersama relawan pada Rabu, 25 Juni 2025 pukul 13.50 WITA, di titik Lost Known Position (LKP).
Respons dari rakyat Brasil benar-benar luar biasa. Ribuan komentar membanjiri akun Instagram Agam, @agam_rinjani. Mereka tak sekadar menyampaikan duka, tapi juga menyematkan pujian dan rasa hormat yang mendalam.
Akun @salete_chale menuliskan “Masih ada orang baik di dunia yang Tuhan kirimkan untuk menolong orang dengan cinta dan kasih sayang.”
Sementara akun @sentimento_do_coracao menyerukan: “Kami di Brasil sepakat bahwa @agam_rinjani dan timnya layak menerima medali kehormatan dari pemerintah Brasil atas keberanian dan ketulusan mereka.”
Agam bukan hanya pemandu gunung. Ia adalah simbol kemanusiaan yang nyata, hasil dari perpaduan pendidikan, pengalaman, dan jiwa sosial yang kuat. Dari lorong TPA Antang, ruang kuliah Antropologi, hingga dinding tebing Rinjani, ia telah menempuh perjalanan luar biasa demi menyelamatkan sesama.
Kisah Agam adalah bukti bahwa dari tempat yang paling sederhana, bisa tumbuh sosok luar biasa yang menginspirasi dunia. Dan kini, hatinya dikenang hangat oleh rakyat Brasil, dan semangatnya jadi teladan bagi kita semua.**(Bars)














