Menu

Mode Gelap
Harmony 93 Bawa Energi Nostalgia ke Attayang Sunset, Senja Losari Makin Istimewa Fatma Wahyuddin: Langit Biru Bukan Sekadar Seremonial, Tapi Gerakan Bersama DWP Makassar Semarakkan HUT RI ke-81, Kebersamaan dan Kekompakan Jadi Spirit Utama Gusmi Irwan Bangsawan Gaungkan Semangat Pengabdian di Semarak Kemerdekaan DWP Makassar Sekda Zulkifly Dorong Makassar Bike Race 2026 Dikemas Semarak Pesona Tari Paduppa AKRAB Bontomanai Warnai Perayaan HUT ke-6 Pandawa Pattingalloang Indonesia

BERANDA

Makassar Luncurkan Gerakan 1 Kelurahan: Urban Farming, Maggot, dan Bank Sampah untuk Wujudkan Kota Zero Waste

badge-check


					Makassar Luncurkan Gerakan 1 Kelurahan: Urban Farming, Maggot, dan Bank Sampah untuk Wujudkan Kota Zero Waste Perbesar

MAKASSAR, CAHAYASULSEL.COM — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan kembali peran vital RT/RW dalam membangun lingkungan kota yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. Penegasan itu ia sampaikan saat Launching Gerakan 1 Kelurahan: 1 Urban Farming, 1 Maggot, dan 1 Bank Sampah di Jl. Batua Raya, Kecamatan Panakkukang, Jumat (8/8/2025).

Appi — sapaan akrab Munafri — mengapresiasi inisiatif progresif jajaran Kecamatan Panakkukang yang dinilai mampu memberi dampak besar bagi pengelolaan sampah dan ketahanan pangan skala rumah tangga.

“Urban farming, maggot, dan bank sampah bukan berdiri sendiri. Ini bagian dari sistem pengelolaan sampah terpadu yang kami dorong untuk mengubah sampah dari musuh menjadi sumber penghasilan,” tegasnya.

Menurutnya, seluruh RT di Makassar wajib memiliki urban farming, biopori, komposter, eco-enzyme, dan pengolahan maggot. Bank sampah di setiap kelurahan akan menjadi pengelola sampah non-organik, sementara sampah organik diolah menjadi kompos atau pakan maggot untuk mendukung pertanian lahan sempit.

Appi mengingatkan kapasitas TPA Makassar yang sudah kritis. “Bayangkan, luas TPA hanya 19,1 hektare dengan tinggi gunungan sampah 16–17 meter. Kalau tidak ada perubahan dari rumah tangga, dua tahun lagi TPA bisa kolaps,” ujarnya.

Ia menekankan pengelolaan sampah harus dimulai dari hulu: rumah tangga, sekolah, hingga kantor pemerintahan. Dinas Pendidikan pun diminta mewajibkan siswa membawa sampah dari rumah untuk dipilah di sekolah, agar edukasi berlangsung sejak dini.

Selain itu, biopori juga menjadi perhatian penting untuk membantu penyerapan air di kawasan padat beton. “Kita sisir satu per satu, mulai dari lingkungan terkecil,” tandasnya.

Sementara itu, Camat Panakkukang M. Ari Fadli menyampaikan bahwa program ini lahir dari ide kolektif para lurah dan Sekcam yang ingin mewujudkan visi besar Wali Kota. “Kami ingin Panakkukang menjadi pelopor integrasi urban farming, maggot, dan bank sampah di Makassar,” ujarnya.

Ia melaporkan bahwa seluruh 11 kelurahan di Panakkukang telah bergerak, bahkan beberapa menunjukkan kemajuan signifikan. Tokoh masyarakat, penggiat lingkungan, hingga seluruh kepala puskesmas ikut terlibat, mencerminkan kolaborasi lintas sektor demi menciptakan budaya hidup bersih, sehat, dan mandiri.

“Ini bukan sekadar mengelola sampah atau menanam di pekarangan, tapi membentuk pola pikir dan kebiasaan baru yang akan diwariskan ke generasi berikutnya,” tutup Ari Fadli.

Baca Lainnya

Harmony 93 Bawa Energi Nostalgia ke Attayang Sunset, Senja Losari Makin Istimewa

12 September 2026 - 19:25 WITA

Fatma Wahyuddin: Langit Biru Bukan Sekadar Seremonial, Tapi Gerakan Bersama

30 Agustus 2026 - 21:46 WITA

DWP Makassar Semarakkan HUT RI ke-81, Kebersamaan dan Kekompakan Jadi Spirit Utama

26 Agustus 2026 - 18:25 WITA

Gusmi Irwan Bangsawan Gaungkan Semangat Pengabdian di Semarak Kemerdekaan DWP Makassar

26 Agustus 2026 - 18:00 WITA

Pesona Tari Paduppa AKRAB Bontomanai Warnai Perayaan HUT ke-6 Pandawa Pattingalloang Indonesia

23 Agustus 2026 - 20:47 WITA

Trending di BERANDA