MAKASSAR, CAHAYASULSEL.COM – Memasuki usia ke-418, Kota Makassar tidak hanya merayakan perjalanan waktu, tetapi juga menghargai akar budaya yang telah menghidupi setiap lorong, pelabuhan, dan ruang hidup masyarakatnya.
Jejak sejarah di Fort Rotterdam, kisah leluhur di Makam Raja Tallo, hingga denyut kreatif yang terus hidup di Museum Kota Makassar menjadi saksi bahwa budaya adalah identitas yang menyatukan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Dalam momentum ini, Dinas Kebudayaan Kota Makassar mengajak seluruh warga untuk terus menjaga, merawat, dan menghidupkan warisan budaya. Sebab, Makassar bukan sekadar tempat tinggal, melainkan rumah bersama yang berakar pada falsafah sipakatau, sipakainga’, dan sipakalabbiri’—nilai-nilai yang menekankan saling menghormati, peduli, dan menjaga hubungan harmonis antarwarga.
“Budaya adalah napas kota ini. Merawatnya berarti kita merawat identitas, kebersamaan, dan masa depan Makassar,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan Kota Makassar.
Perayaan ulang tahun kota ini menjadi momentum untuk menguatkan semangat kebersamaan, memperkuat nilai-nilai tradisi, dan menginspirasi generasi muda agar terus bangga dan terikat pada jati diri kota yang kaya budaya.
Dengan semangat itu, Makassar menegaskan diri sebagai kota inklusif, berbudaya, dan terus bergerak maju, sambil tetap menjaga akar dan identitasnya.














