
Andi Andini Amalina Abdillah, S.PWK. (Alumni UIN-AM)
MAKASSAR.CAHAYASULSEL.COM – Andi Andini Amalina Abdillah, S.PWK., alumni Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM), menulis surat terbuka yang tidak hanya penuh kekecewaan, tetapi juga penuh kemarahan terhadap kondisi kampus tercinta yang kini telah jatuh dalam jurang kehancuran moral. Surat ini adalah seruan tajam dan tegas yang mengingatkan bahwa UINAM telah mengkhianati semua yang selama ini diajarkan kepada kami.
“Dulu, UINAM adalah tempat yang mendidik kami dengan kejujuran, integritas, dan iman. Tapi sekarang, apa yang terjadi? Kampus yang seharusnya menjadi benteng moral justru terjerumus dalam praktik paling hina: peredaran uang palsu. Bahkan, diduga menjadi tempat produksi uang palsu. Ini adalah sebuah penghianatan besar terhadap segala nilai yang selama ini kami junjung tinggi,” ujar Andini dengan nada yang penuh kecaman.
UINAM yang dahulu dikenal sebagai tempat membentuk generasi amanah, kini malah menjadi sarang bagi kejahatan. Dulu, kampus ini mengajarkan kami tentang kedisiplinan, etika, dan kejujuran. Namun sekarang, kampus ini dipenuhi dengan praktik ilegal yang merusak bukan hanya reputasi kampus, tapi juga masa depan bangsa ini.
“Bagaimana mungkin kampus yang seharusnya menjadi teladan malah ikut terlibat dalam kejahatan yang bisa merusak tatanan masyarakat? Ini adalah pukulan telak bagi integritas kami sebagai alumni,” tambah Andini dengan penuh amarah.
Penemuan mesin pencetak uang palsu di lingkungan kampus bukan hanya sebuah kesalahan besar, tetapi sebuah bencana moral yang tidak bisa dibiarkan. Ini adalah bukti nyata bahwa UINAM, yang dulunya kami banggakan sebagai lembaga pendidikan yang menjunjung tinggi keilmuan dan nilai-nilai Islam, kini telah kehilangan arah.
“Kami tidak bisa tinggal diam! Sebagai alumni, kami merasa bertanggung jawab untuk bersuara dan mengingatkan bahwa UINAM harus segera bertindak, jangan biarkan kampus ini semakin tenggelam dalam lumpur kehancuran moral. Kami meminta, bukan sekadar mendesak, agar pihak kampus bertanggung jawab dan segera membersihkan noda hitam ini,” tegasnya.
Andini juga menyerukan kepada seluruh civitas akademika, baik alumni, mahasiswa, maupun staf kampus, untuk tidak berpangku tangan. “Ini bukan hanya tentang skandal yang memalukan, ini tentang masa depan kita semua. UINAM yang dulu menjadi tempat pembentukan karakter, tempat mengasah keimanan, kini hanya menjadi simbol kehancuran moral. Jangan biarkan skandal ini merusak masa depan kita dan mencemarkan nama baik kampus selamanya,” seru Andini.
Dengan surat ini, Andini menuntut agar UINAM kembali ke jalur yang benar, kembali kepada prinsip yang telah kami pelajari, dan kembali menjadi kampus yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menegakkan moralitas dan integritas. “Jika pihak kampus tidak segera bertindak tegas dan mengambil langkah-langkah nyata, kami tidak akan tinggal diam. Kami akan terus melawan, dan akan terus memperjuangkan agar UINAM kembali menjadi kampus yang dihormati, bukan tempat persembunyian bagi kejahatan!” tutupnya dengan tegas.
Surat ini adalah panggilan untuk bertindak. UINAM harus dibersihkan dari praktik-praktik tercela ini, atau kami akan terus bersuara keras hingga kampus ini kembali ke jalan yang semestinya—sebuah kampus yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam, integritas, dan moralitas yang seharusnya menjadi fondasi utama dari setiap pendidikan. (Bars)














