MAKASSAR, CAHAYASULSEL.COM — Fisika yang sering dipahami sebagai ilmu tentang gaya, energi, dan cahaya—ternyata mampu membuka jendela baru untuk memahami etika kepemimpinan. Prinsip keseimbangan yang menjaga sistem tetap stabil, energi yang lahir dari usaha, hingga cahaya yang melambangkan kejujuran, memberikan refleksi bahwa nilai moral manusia sesungguhnya berjalan beriringan dengan hukum-hukum alam.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Guru Besar Fisika Unismuh Makassar, Prof. Dr. Nurlina, S.Si., M.Si., dalam perbincangan budaya “Pappaseng Ri Elompugi” Episode 11 yang digelar TVRI Sulawesi Selatan bersama Unismuh Makassar, Jumat, 14 November 2025. Program ini dijadwalkan tayang di TVRI Sulsel pada Sabtu, 15 November 2025.
Selain Prof. Nurlina, perbincangan ini juga menampilkan Prof Andi Sukri Syamsuri (Prof Andis) sebagai narasumber utama, serta Dr Jumiati Lira dan Dr Muhammad Arief Muhsin sebagai narasumber pendamping.
Fisika Budaya: Membaca Pappaseng lewat Ilmu Alam
Dalam dialog bertema “Etika Kepemimpinan: Menuntun dengan Akal dan Hati”, Prof Nurlina menghadirkan pendekatan yang unik: membawa fisika keluar dari laboratorium dan memadukannya dengan pappaseng—amanah moral masyarakat Bugis.
Ia mencontohkan, konsep kesetimbangan dalam fisika dapat mencerminkan bagaimana pemimpin menjaga harmoni antara kekuasaan dan tanggung jawab.
“Suatu sistem menjadi stabil ketika gaya-gaya di dalamnya seimbang. Pemimpin pun harus menjaga keseimbangan dalam dirinya dan masyarakat,” ujarnya.
Dalam nilai reso’, ia melihat keselarasan dengan konsep energi dan usaha: tidak ada energi tanpa kerja keras, sebagaimana kepemimpinan terhormat tidak lahir dari keinginan semata.
Sementara cahaya, yang selalu lurus dalam perambatannya, menjadi metafora yang indah untuk nilai ada tongeng’—kejujuran dan integritas dalam tradisi Bugis.
Konsep-konsep ini, menurutnya, dapat membantu siswa melihat fisika sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia mencontohkan alat budaya seperti latto-latto, mattojang, kacaping, dan gandrang yang bisa digunakan untuk memahami berbagai teori fisika secara lebih nyata dan dekat dengan keseharian.
Etika Kepemimpinan Bugis: Harmoni Akal dan Nurani
Dalam kesempatan yang sama, Prof Andis membuka pembahasan mengenai akar etika kepemimpinan Bugis. Ia menegaskan tiga nilai utama yang menjadi pilar perilaku pemimpin Bugis: siri’, lempu’, dan sipakatau.
Ia mengutip pappaseng tua:
“Naiya raja, dé’na naparennuangi tanaé, rekko dé’na napalappasengi atinna.”
(Pemimpin tidak akan menyejahterakan negeri jika ia tidak menyejukkan hatinya sendiri.)
Menurut Prof Andis, kepemimpinan yang ideal adalah perpaduan antara kejernihan nalar dan kehalusan nurani. Dalam situasi modern yang penuh tekanan serta kompleksitas moral, pappaseng hadir sebagai kompas yang mengingatkan pemimpin untuk kembali pada nilai keadilan, kebijaksanaan, dan keberanian moral.
Ia menekankan bahwa akal dan hati bukan dua hal yang bertentangan, melainkan dua instrumen yang harus saling menyempurnakan dalam setiap keputusan seorang pemimpin.
Acara yang memadukan dokumentasi budaya, teater monolog, musik elong, dan dialog akademik ini berlangsung hangat dan penuh pemikiran mendalam, mempertemukan warisan nilai Bugis dengan pendekatan ilmiah modern dalam satu ruang kajian yang memikat.














