Menu

Mode Gelap
Menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 H, Fatma Wahyuddin Sampaikan Pesan Silaturahmi dan Kebersamaan Inspiratif! Ketua RW 05 Mangasa Rela Nol Gaji Demi Warga, Fasilitas Gratis Jadi Bukti Nyata DPC APPI Kecamatan Makassar: Penertiban PK5 oleh Camat Jadi Contoh Pendekatan Beradab Aksi Sosial Ramadhan, Perindo Makassar Gandeng UMKM Bagikan Takjil Gratis untuk Warga Jelang Idulfitri, Camat Tallo Pimpin Patroli Gabungan Sikat Potensi Gangguan Kamtibmas Kecamatan Tallo Siapkan Gerakan Pangan Murah, Langkah Nyata Jaga Harga Sembako Jelang Hari Raya

BERANDA

Fisika dan Pappaseng Bugis: Merangkai Ilmu dan Etika dalam Satu Ruang Pemikiran

badge-check


					Fisika dan Pappaseng Bugis: Merangkai Ilmu dan Etika dalam Satu Ruang Pemikiran Perbesar

MAKASSAR, CAHAYASULSEL.COM — Fisika yang sering dipahami sebagai ilmu tentang gaya, energi, dan cahaya—ternyata mampu membuka jendela baru untuk memahami etika kepemimpinan. Prinsip keseimbangan yang menjaga sistem tetap stabil, energi yang lahir dari usaha, hingga cahaya yang melambangkan kejujuran, memberikan refleksi bahwa nilai moral manusia sesungguhnya berjalan beriringan dengan hukum-hukum alam.

Pandangan tersebut disampaikan oleh Guru Besar Fisika Unismuh Makassar, Prof. Dr. Nurlina, S.Si., M.Si., dalam perbincangan budaya “Pappaseng Ri Elompugi” Episode 11 yang digelar TVRI Sulawesi Selatan bersama Unismuh Makassar, Jumat, 14 November 2025. Program ini dijadwalkan tayang di TVRI Sulsel pada Sabtu, 15 November 2025.

Selain Prof. Nurlina, perbincangan ini juga menampilkan Prof Andi Sukri Syamsuri (Prof Andis) sebagai narasumber utama, serta Dr Jumiati Lira dan Dr Muhammad Arief Muhsin sebagai narasumber pendamping.

Fisika Budaya: Membaca Pappaseng lewat Ilmu Alam

Dalam dialog bertema “Etika Kepemimpinan: Menuntun dengan Akal dan Hati”, Prof Nurlina menghadirkan pendekatan yang unik: membawa fisika keluar dari laboratorium dan memadukannya dengan pappaseng—amanah moral masyarakat Bugis.

Ia mencontohkan, konsep kesetimbangan dalam fisika dapat mencerminkan bagaimana pemimpin menjaga harmoni antara kekuasaan dan tanggung jawab.
“Suatu sistem menjadi stabil ketika gaya-gaya di dalamnya seimbang. Pemimpin pun harus menjaga keseimbangan dalam dirinya dan masyarakat,” ujarnya.

Dalam nilai reso’, ia melihat keselarasan dengan konsep energi dan usaha: tidak ada energi tanpa kerja keras, sebagaimana kepemimpinan terhormat tidak lahir dari keinginan semata.

Sementara cahaya, yang selalu lurus dalam perambatannya, menjadi metafora yang indah untuk nilai ada tongeng’—kejujuran dan integritas dalam tradisi Bugis.

Konsep-konsep ini, menurutnya, dapat membantu siswa melihat fisika sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia mencontohkan alat budaya seperti latto-latto, mattojang, kacaping, dan gandrang yang bisa digunakan untuk memahami berbagai teori fisika secara lebih nyata dan dekat dengan keseharian.

Etika Kepemimpinan Bugis: Harmoni Akal dan Nurani

Dalam kesempatan yang sama, Prof Andis membuka pembahasan mengenai akar etika kepemimpinan Bugis. Ia menegaskan tiga nilai utama yang menjadi pilar perilaku pemimpin Bugis: siri’, lempu’, dan sipakatau.

Ia mengutip pappaseng tua:
“Naiya raja, dé’na naparennuangi tanaé, rekko dé’na napalappasengi atinna.”
(Pemimpin tidak akan menyejahterakan negeri jika ia tidak menyejukkan hatinya sendiri.)

Menurut Prof Andis, kepemimpinan yang ideal adalah perpaduan antara kejernihan nalar dan kehalusan nurani. Dalam situasi modern yang penuh tekanan serta kompleksitas moral, pappaseng hadir sebagai kompas yang mengingatkan pemimpin untuk kembali pada nilai keadilan, kebijaksanaan, dan keberanian moral.

Ia menekankan bahwa akal dan hati bukan dua hal yang bertentangan, melainkan dua instrumen yang harus saling menyempurnakan dalam setiap keputusan seorang pemimpin.

Acara yang memadukan dokumentasi budaya, teater monolog, musik elong, dan dialog akademik ini berlangsung hangat dan penuh pemikiran mendalam, mempertemukan warisan nilai Bugis dengan pendekatan ilmiah modern dalam satu ruang kajian yang memikat.

Baca Lainnya

Menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 H, Fatma Wahyuddin Sampaikan Pesan Silaturahmi dan Kebersamaan

20 Maret 2026 - 23:38 WITA

Inspiratif! Ketua RW 05 Mangasa Rela Nol Gaji Demi Warga, Fasilitas Gratis Jadi Bukti Nyata

17 Maret 2026 - 22:52 WITA

DPC APPI Kecamatan Makassar: Penertiban PK5 oleh Camat Jadi Contoh Pendekatan Beradab

17 Maret 2026 - 22:19 WITA

Aksi Sosial Ramadhan, Perindo Makassar Gandeng UMKM Bagikan Takjil Gratis untuk Warga

16 Maret 2026 - 19:11 WITA

Jelang Idulfitri, Camat Tallo Pimpin Patroli Gabungan Sikat Potensi Gangguan Kamtibmas

15 Maret 2026 - 02:11 WITA

Trending di BERANDA